RSS

WANITA YANG DIPENUHI RASA CINTA

Selalu, saya akan tenggelam dalam luasnya danau di keriput garismatawanita itu; garis yang berkisah tentang kesabaran, perjuangan hidup,penderitaan dan pengorbanan serta maaf. Menelusuri peta yang ada diwajahnya, saya tak pernah tersesat dalam membaca atau mencari sebuahkotabernama: keikhlasan. Kali ini, saya berusaha menyusun kepingankesabaran dandanau maaf yang ada padanya dari sebuah drama kecil yang meluruhkanair matasaya pada akhir Februari 2003 lalu, di sebuah bangsal kelas II RumahSakitUmum Giriwono, Wonogiri. Tubuh renta wanita itu melangkah ragu, mungkin beberapa bagiandisebabkanperjalanan sekitar dua jam dengan memakai bus. Ia memang hampirselalu mabukdalam perjalanan semacam itu kendati hanya dalam bilanganjam. "Mbah...!"suaranya bergetar saat berada di ambang pintu. Nanap, ia menatapsesosoktubuh yang tergolek di atas tempat tidur dengan berbagai selang;infus,bantuan pernapasan, dan saluran pembuangan.... Laki-laki yangtergolek itumembalas tatapnya, menahan sejenak, lantas pelan-pelan dialihkan ketempatlain. Ada sedu tertahan, sesak dalam dada. "Bagaimana, Mbah?" kembalisapawanita itu seraya mendekat dan meraba kening si lelaki. "Yang sakitbagianmana?" lanjutnya. Tangannya membelai kening lelaki itu dan turun ketelinganya. Lelaki itu telah dua hari dirawat di rumah sakit karenapenyakitstroke. Tubuh bagian kanannya lumpuh. Lemah, tangan kiri si lelakiberusahameraih tangan wanita itu, menggenggamnya lama, tetap dengan matamenghindaribertatap dengannya. Ada kepundan yang bergolak-golak di sana dantangis yangenggan dipurnakan. ----- Wanita itu tak lain adalah bekas istri dari lelaki yang kinitergolektersebut. Lebih dua puluh tahun sudah keduanya berpisah. Sangat sahbagi siwanita itu apabila ia membenci bekas suaminya. Begitu banyak lukamengangayang ditinggalkan lelaki itu dalam perjalanan hidup yang ia alami.Sebelumresmi berpisah, suaminya menelantarkan dirinya berikut anak-anaknya.Suaminya lantas menikah dengan wanita lain, memenuhi istri mudanyadengankekayaan dan kebahagian, sedangkan wanita ini terlunta-luntamemperjuangkanhidup yang ingin ia menangkan. Ya, nyaris tak ada apa pun yangdiberikansuaminya selain penderitaan. Ia bukan resmi dicerai di PA, karena ituiamasih menjadi istri jika sewaktu-waktu suaminya pulang ataubertandang.Selalu tak ada apa-apa yang di bawa lelaki itu selain perselisihanataukekesalan pada istri mudanya dan si wanita akan menerimanya dengansabar. Tapi, selalu begitu, setelah ia kembali mengandung, suaminya akansegerapergi kembali pada istri mudanya, dan kembalilah ia berjuang terlunta-luntadengan janin dalam kandungan. Tercatatlah, sembilan anak terlahir darirahimnya, seorang di antaranya meninggal karena kekurangan air susu.Asinyatidak keluar oleh karena nyaris tak ada makanan layak yang iakonsumsi. Dilain waktu, pernah selama beberapa minggu ia -berikut anak-anaknya-tidakmakan nasi. Tidak ada beras tersisa. Kendati suaminya hidupberkecukupanbahkan boleh dibilang kaya, -- saat itu, suaminya menjabat kepaladesa – iatak hendak meminta, apalagi menuntut. Untuk bertahan hidup, ia dananak-anaknya memakan daun-daunan yang direbus dengan campuransedikit berashasil utang. Jika waktu makan tiba, ia kumpulkan anak-anak, dudukmelingkarmemutari kuali tanah berisi bubur daun-daunan tersebut dengan masing-masingmemegang satu piring. Lantas, pada piring masing-masing dituang buburencerterebut. Sungguh jauh dari cukup, apalagi rasa kenyang. Sementara...suamidan istri mudanya sekaligus anak-anak mereka makan dengan kenyang danberlebihan. Jika malam tiba, gubuk reot yang ia huni itu penuh rebak dengancerita.Wanita ini gemar sekali mendongeng untuk anak-anaknya; satu-satunyahiburanyang bisa ia berikan pada anak-anak. Dengan sebuah lentera kecil yangberkedip-kedip ditiup angin, ia mendongeng Timun Mas, Kepel, LutungKasarung, Roro Mendut-Pronocitro, Minakjinggo-Kenconowungu, dansekian lagidongeng yang ia kreasi sendiri. Anak-anaknya mendengarkan dengan mataberbinar-binar. Kadang-kadang pula ia mengajarkan tembang-tembangdolananyang menjadi senandung riang pembawa semangat anak-anaknya. Sambilberceritaitu, tangannya tak henti bekerja, kadang-kadang sampai larut malam;menganyam tikar pandan pesanan tetangga, mengupas singkong, oncekdhele,prithil kacang, pipik jagung... pekerjaan-pekarjaan khas para petaniyangdarinya ia peroleh upah tak seberapa. Lantas, sementara ia terusmendongeng,satu per satu anak-anaknya terlelap di atas tikar yang berlubang danbertambal-tambal di sana-sini. Setelah anak-anaknya tertidur, serentak, wajahnya yang semulaberbinar-binar tanpa duka itu meredup. Ia menatap anak-anaknya yangtidurdengan mulut menganga dan perut berkeriut. Napasnya cekat. Tanpapermisi,air mata berbondong-bondong keluar oleh tindihan rasa nelangsa. Ya...disaat yang sama, suami dan istri mudanya berikut anak-anak merekaterlelap diatas kasur dengan selimut hangat dan perut kekenyangan. Dirinya masihharusmerunut malam yang jauh. Dia tak berpikir akan bertahan hidup, tapiia takakan mengakhiri sendiri dengan bodoh. "Saya tak percaya saya masihhidupsampai hari ini," ujarnya bertahun-tahun setelah itu. Yang ada dalampikirannya adalah 'hidup dan bertahan'. Ia harus menyelesaikan semuaitudengan cara-cara pahlawan. Dengan menjadi buruh tani, ia terusmengais.Pekerjaan itu nyaris tak menjanjikan apa-apa. Tak jarang, ia bekerjadisawah suaminya sendiri sebagai buruh dengan upah yang tidak lebihbesar dariburuh yang lain, bahkan cenderung lebih kecil. Entah, bagaimana ia mampu menjalani semua itu. Lantas, satu per satuanaknya lulus sekolah. Yang pertama menyelesaikan SMP, yang keduabertahanhanya sampai SD, sedangkan yang ketiga tak mampu menyelesaikan pendidikan terendah sekalipun kendati justru ia anakpalingcerdas di antara anak-anaknya yang lain. Bersama, ketiga anak inimemutuskanmerantau ke Jakarta. Tentu saja tak begitu ada harapan bekerja ditempatyang nyaman. Ketiganya... menjadi pembantu. Tapi, kendati sedikit,ketiganyamulai bisa mengirim uang untuk orang tua dan adik-adiknya. Begitulah,wanitaini telah mengatur rupiah dengan begitu cermat. Ia bahkan takmenyentuhuang-uang kiriman itu, tapi kesemuanya digunakan untuk membiayaisekolahlima anaknya yang lain. Cukup ajaib, kelima anaknya tersebut berhasilmenamatkan jenjang SLTA. Hari-hari lesap ke bulan dan bulan tenggelam dalam tahun. Sepertihidupnya, waktu tidak berhenti berjalan. Satu per satu anaknya lulus,bekerja ... dan menikah. Biaya sekolah tidak melulu ditanggung anakpertama,tetapi selalu demikian... setiap ada yang lulus dan mulai bekerja, iabertugas melanjutkan estafet amanah itu. Lagi-lagi, keajaiban danbuktibahwa Allah Mahakasih, empat dari anak-anaknya tersebut lulus tesmenjadipegawai negeri sipil, sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi untukukurandaerahnya. Saat sekolah pun, rata-rata mereka mendapat beasiswa ataukeringanan biaya sebagai kompensasi dari prestasi yang diraih... atauminimal menjadi juara kelas. Namanya pun menjadi legenda dimasyarakatnyabahwa anak-anaknya maupun cucu-cucunya pasti cerdas dan sukses.Bolehlahdikatakan begitu. Untuk ukuran orang seperti dirinya, tentulah apayang adasekarang ini merupakan sukses yang tidak terbilang. Masing-masinganaknya diJakarta telah memiliki hunian yang layak -kendati kecil--, anakpertamanyamalah berhasil masuk tes PNS di Mabes Polri kendati hanya denganijazah SMP.Anak-anaknya pun nyaris semua cukup disegani di lingkungannya, halmanatidak demikian dengan anak-anak suaminya dari istri mudanya. Tahun2002,rumah yang ia huni yang dibangun anak-anaknya pada tahun 1988, ambruk.Kondisinya memang telah reot. Anak-anaknya bukan tidak tahu, tapimerekatidak memperbaikinya dalam kurun yang cukup lama itu disebabkan merekadilarang oleh sang ayah -suami dari wanita ini-untuk memperbaiki. Laki-laki itu mungkin hatinya terbuat dari batu, tak juga bisabelajardari kejadian-kejadian yang ia alami. Tahun 1988, saat anak terakhirdariistrinya berusia 10 tahun, ia kembali terpikat wanita lain; seorangjandamuda dari kampung sebelah. Karena tak bisa menikah resmi,keduanya -entahlah, mungkin nikah di bawah tangan-tinggal serumah.Kali ini,wanitanya tak 'sebaik' dan sesabar' dua istrinya terdahulu. Hartanyahabisdalam bilangan tahun. Dan... empat tahun kemudian, jabatannya sebagaikepaladesa berakhir. Hidup dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu, wanita mudainitidak bertahan. Ia memilih pergi meninggalkan si lelaki yang kini taklagibisa mencukupi kebutuhannya. Lantas, seperti roda... hidup berputar. Allah terus memperjalankantakdirnya yang tak terkata namun bagian dari hal paling tetap danniscaya.Bukan karma. Lelaki ini menjalani hidupnya sendiri, menjadi buruhtani –karena sawahnya telah habis terjual-dan tinggal di kesunyianrumahnya:tanpa anak dan istri. Sementara istrinya -si wanita ini-mulai merasaikebahagiaan dari hidup yang lebih layak, riang dipenuhi jeritan manjacucu-cucu dan rengekan mereka. Maka, meradanglah si lelaki saat anak-anaknyaberniat membangun sebuah rumah untuk ibunya karena rumah yang kemarinrubuh.Tak hanya fitnah, teror pun dilangsungkan. Anak-anaknya tak menyerah,tetapberusaha membangun rumah itu karena memang sudah tidak bisa ditundalagi.Dulu mereka menahan-nahan niat tersebut selama bertahun-tahun, dansekarangtak bisa lagi. Tersebutlah, di suatu malam, si wanita -istrinya yang telahditelantarkanitu-mendengar suara berisik ayam-ayam di kandang. Berjingkat, iamembukapintu belakang rumah. Masih sempat sekilas ia melihat suaminyamenaburkansesuatu di sudut luar rumah. Kendati dalam remang, ia masih bisamengenalibahwa sosok itu adalah suaminya. Paginya, tiba-tiba ia lumpuh.Tubuhnyalemah dan tak bisa berdiri. Orang-orang menduga itu teluh. Setelahdirawatbeberapa saat di RS, alhamdulillah ia sembuh. Teror tak berhenti.Suaminya,secara terbuka, mendoakan agar kayu-kayu rumahnya keropos dimakanrayap. Dandoanya terkabul, tapi kali ini bukan pada rumah si wanita, melainkanrumahnya sendiri. Beberapa waktu kemudian ia mengancam akan membakarrumahitu, dan sekali lagi, rencana itu –kendati bukan dia-terlaksana. Jugabukanpada rumah si wanita, melainkan rumahnya sendiri. Karena lupamemadamkan apidi tungku, rumah belakangnya terbakar. Itu semua belum berakhir. Dalam kesendirian yang diliputi rasadengki daniri, ia mendoakan agar si wanita ini diserang penyakit. Dan lagi....doanyaterkabul, juga bukan untuk si wanita, tapi untuk dirinya sendiri.Tiba-tiba,orang-orang menemukan lelaki itu tak bisa bicara dan sebelah tubuhnyalumpuh. Ia terserang stroke untuk pertama kali yang sekaligus masukdalamstadium kritis. Anak-anaknya membawanya ke rumah sakit. Dan...kejadian hariitu adalah bak sebuah drama nyata. Sebuah babak yang luar biasa indahsaatsi wanita -dengan langkah ragu dan bergetar, sebagian oleh sisaperjalananyang membuatnya mabuk darat-menjenguk bekas suaminya yang tergolek dirumahsakit. Ada pancaran iba dan kasih yang tulus saat ia meraba,mengusap, danbertanya tentang kabar dengan terbata-bata. Mesra sekali saat iamemijitkaki lelaki itu. "Piye rasane, Mbah?" tanyanya dengan panggilan mesra. Mbah? Aduhai,nyamansekali. Saat belum punya anak, ia memanggil lelaki ini dengan sebutan'Kakang,' saat sudah punya anak dengan sebutan 'Pak', dan saat telahdianugerahi cucu demikian banyak, ia memanggilnya 'Mbah' Gemetar, tangan kiri lelaki ini -karena tubuh bagian kanannyalumpuh-menggenggam tangan renta yang mengusap keningnya, seakan iamenikmatibelaian lembut tersebut dan menahannya sesaat agar jangan terlalucepatsirna. Kendati pandangannya dibuang ke sisi lain menghindariwajah -bekas-istrinya ini, ia tak bisa mengingkari ada lautan maafdan cintayang telah menggelombanginya. Melihatnya, saya tak kuasa menahan isak.Seperti lelaki itu, tangis saya cekat di kerongkongan sementara airmatasudah berbondong-bondong menitik tanpa bisa dicegah lagi. Sesaksekali dadasaya oleh rasa haru yang menekan-nekan. Ya... melihat wanita ini, saya seperti tenggelam dalam lautkesabaran.Dan... dialah wanita tercantik yang pernah saya jumpai di dunia ini.Dia...tak lain adalah ibu saya. Ya Allah... ampunilah dosanya, maafkanlahkesalahannya dan kasihilah dia sebagaimana ia mengasihi kami dalamsuka danduka.
Malam 1 Juni 03 Kenangan dan doa untuk Bundaku, orang paling berharga dalam hidupku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JILBAB Mengurangi Risiko KANKER

Saat ini, jilbab bukan lagi fenomena kelompok sosial tertentu, tetapi sudahmenjadi fenomena seluruh lapisan masyarakat. Tidak sedikit jumlah artis,eksekutif, dan publik figur lainnya menggemari dan menggunakannya.
Beruntunglah Anda yang sudah mengenakan jilbab (veil), kerudung bagi wanitamuslim ini tak hanya menunjukkan kerendahan hati dan kesopanan, tetapi jugamelindungi Anda dari penyakit mematikan.
Jilbab yang dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador (Iran), pardeh(India dan Pakistan), milayat (Libya), abaya (Irak), charshaf (Turki),hijab (Mesir, Sudan, dan Yaman), dapat memperkecil risiko pemakainyaterkena kanker tenggorokan dan hidung. Alasannya, jilbab mampu menyaringsejumlah virus yang suka mampir ke saluran pernapasan bagian atas.
Profesor Kamal Malaker asal Kanada, menyatakan wanita Arab Saudi - yangsebagian besar menutup wajahnya secara penuh- jarang sekali terserang virusepstein barr, yang menyebabkan kanker nasofaring. Bisa dikatakan jumlahpenderita kanker jenis ini sangat rendah.
"Jilbab melindungi wanita dari infeksi saluran pernapasan bagian atas, "tulis Saudi Gazette, Jum’at (19/3), mengutip pernyataan Malaker, "Di ArabSaudi, jumlah wanita penderita kanker nasofaring sangat rendah dibandingkanlaki-laki," lanjut Malaker.
"Kenyataan ini sungguh menarik, bagaimana pakaian adat yang begitusederhana memiliki pengaruh begitu besar pada kehidupan manusia," ujarMalaker, kepala bidang onkologi radiasi Rumah Sakit King Abdul Azis.
Kanker nasofaring merupakan kanker yang paling banyak diderita masyakarakatuntuk jenis kanker Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Kepala Leher (KL).
Tingginya angka penderita kanker nasofaring terutama akibat keberadaanvirus epstein barr yang hampir ada pada 90 persen masyarakat di negaraberkembang. Jika virus tersebut ’terbangun’, maka dapat terjadi mutasi selyang berujung pada kanker nasofaring.
Nasofaring merupakan saluran yang terletak di belakang hidung, tepatnya diatas rongga mulut.
Gejala awal dari kanker nasofaring tersebut antara lain gejala pada telingayang ditandai dengan dengingan terus-menerus pada telinga.
Di samping itu, sering disertai gejala pada hidung seperti pilekberkepanjangan yang disertai dengan darah, suara parau yang berkepanjangan,sering mimisan dan nyeri saat menelan.
Kanker nasofaring merupakan penyakit kanker keempat yang paling banyakmenyerang penderita kanker di Indonesia. (zrp/Reuters)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kiat Mendidik Anak

Bagi para Netters , kaum ibu khususnya saya mencoba menuliskan beberapa tips untuk mendidik anak yang bukan cara yang mudah bagi kaum ibu dan semoga bermanfaat yang walaupun juga saat ini saya sendiri yang dikarunia 3 putri yang masih balita yang saya coba tanamkan pada putri2 cilik saya.
1. Percaya Diri (Dasar)Anak umumnya membentuk kepercayaan dirinya melalui suasana lingkungan , bersumber dari nada suara, bahasa tubuh dan ekspresi kita yang akan diserap oleh anak. Dari kata-kata dan tindakan kita sebagai orang tua akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Kita bisa berikan pujian yang akan membuat anak bangga, membiarkan mereka melakukan hal yang mereka inginkan untuk dirinya sendiri, yang akan membuat mereka merasa mandiri. dan sebaliknya membandingkan anak dengan anak lain akan membuat mereka merasa tak berguna. Sebagai acuan kita sebagai or-tu, hindari untuk membuat pernyataan kalimat seperti "bodoh" atau "kelakuan kamu seperti bayi", komentar ini akan tertanam dalam diri anak. usahakan sebisa mungkin pilih kalimat yang tepat saat kita ingin berbicara dengan anak. Biarkan anak tahu bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan dan kita tetap menyayanginya yang walaupun dalam diri kita tidak menyukai apa yang dia lakukan.
2. Memuji Pernahkan terbersit dalam pikiran kita bahwa kita suka bereaksi negatif terhadap anak ? mungkin jika ingat2 sering sekali kita lakukan hal ini terhadap tanpa jarang terucap untuk memuji untuk memberikan kesenangan pada hati anak kita.Dengan kita memberikan pujian dengan kasih sayang akan menanamkan keberanian pada anak untuk terus berperilaku baik dalam jangka waktu lama.
3. DisiplinDengan kita menanamkan disiplin pada anak akan menolong anak untuk berprilaku yang baik dan belajar mengontrol diri dan juga dapat melihar batas-batas yang kita kembangkan untuk mereka agar bisa bertanggung jawab ketika dewasa kelak. Kita bisa menciptakan peraturan2 dirumah akan menlolong anak mengerti harapan2 kita dan mengontrol diri seperti : mengatur waktu nonton tv sebelum mereka menyelesaikan PR-nya atau tak boleh memukul atau memanggil nama pada yg lebih tua dsb.
4. Waktu LuangKesibukan pada or-tu yg bekerja terkadang membuat anak sulit untuk berkumpul walaupun hanya untuk makan malam bersama ataupun liburan. Kita tidak menyadari dari kebersamaan tsb penting utk menjalin kedekatan dan keakraban pada anak. Sebisa mungkin sediakan waktu bersama spt. saparapn , jalan2 waktu liburan akhir minggu dsb.
5. Menjadi Contoh Yang BaikAnak yang msh belia umumnya akan belajar berprilaku dari orangtua dari sejak dini. Dengan demikian kita harus berhati2 berprilaku didepan anak2 spt kita sedang marah2 dengan memukul , si anak akan memiliki contoh pada temannya sendiri.
6. KomunikasiKita sebagai or-tu sebisa mungkin menyisihkan waktu untuk dapat berkomunikasi pada anak dengan memberikan penjelasan jika sedang membuat PR atau nonton TV, bersikap terbuka atau membahas suatu masalah.
7. FleksibelJika kita kewalahan atau tak sanggup menghadapi prilaku anak, bisa jadi karena harapan kita terlalu besar. Kebanyakan kita para or-tu berharap anaknya bisa menjadi apa yg kita inginkan . dan lingkungan memberikan pengarauh besar pada perkembangan anak. Kita selalu mengatakan "tidak' atau "jangan" tidak baik utk perkembangannya, maka bersikaplah fleksibel dan jangan terlalu kaku.
8. CintaSebagai or-tu , kita bertanggung jawab penuh untuk mendidik anak2 kita dengan memperbaiki dan memimpin anak. Jauhkan diri kita pada anak yang hanya selalu mengkritik , menyalahkan atau mencari kesalahan yang dpt membuat tidak percaya diri pada si anak. Cobalah kita bersikap menyayangi dan mencintai.
9. Orang Tua bukan SupermanYang perlu kita sadari bahwa kita bukan sebagai Superman, bukan orang yg sempurna, dan kita memiliki kekuatan dan kelemahan . Jadi kita sendiri juga harus mengenali diri kita sendiri dan juga kenali kemampuan kita, miliki pengharapan atas diri kita, pasangan serta anak2 kita. Mulailah kita mempunyai management yang baik dalam hal mendidik anak, fokukskan pada hal yang butuh perhatian yang besar. Akui jika anda tak sanggup. Memperhatikan kebutuhan diri yang nantinya akan membuat kita egois. Dengan demikian , kebutuhan kita penting sebagai contoh anak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Letak Kecantikan Wanita

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkan kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu sentiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terhulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.
Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajahnya. Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

idihh... ga bisa masak??!!

Hasan mengeryitkan kening ketika menyantap nasi goreng buatan Ami, istrinya. Dibibirnya tersungging sebuah senyaman tipis, sementara Ami memandang suaminya penuh rasa cemas. Benar dugaannya, hingga kali ketiga ia memasakkan nasi goreng untuk suaminya, ternyata belum juga bisa terasa pas di lidah. Enak … hibur suaminya sambil meneruskan, cuma terlalu asin. Ami tersenyum kecut menahan malu. Setelah hampir sebulan lalu keduanya menikah, baru tak lebih dari dua pekan mereka menempati rumah kontrakannya. Sejak saat itu Ami memang harus mencuci, memasak dan menyetrika sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ia sentuh ketika masih gadis. Ibunya tak pernah mengajarkan pekerjaan-pekerjaan semacam itu kepadanya, dan semasa kuliah pun waktunya habis untuk belajar. Beruntung, Hasan termasuk suami yang mau mengerti latar belakang kehidupan istrinya, hingga selanjutnya justru Hasanlah yang mengajari Ami berbagai resep masakan.

Di era globalisasi ini, semakin banyak gadis yang senasib seperti ami Sekolah tinggi, pandai, mandiri, tetapi tak bisa memasak, tak suka mencuci ataupun menyapu halaman. Kamarnya penuh buku diktat berantakan, debu di rak buku dan jendela sudah berminggu-minggu belum dibersihkan, tetapi gadis penghuni kamar itu tetap asyik berkutat dengan buku-buku pelajaran dan komputernya.
Jika dilihat dari kesibukan jadwal dan materi pelajaran yang ekstra berat, kita mungkin bisa memahami mengapa gadis-gadis pandai itu begitu giat belajar hingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan teknis. Dianggapnya pekerjaan-pekerjan itu hanya membuang waktu, buang tenaga, tidak bermanfaat, dan terlalu remeh dibandingkan tugas belajar yang berat. Benarkah pendapat itu?
Tentu saja salah besar. Setiap pekerjaan, seremeh apapun, pasti ada manfaatnya. Khusus untuk pekerjaan-pekerjaan kecil dalam rumah tangga seperti ini, sebenarnya memiliki manfaat cukup besar pula bagi kaum hawa. Apa saja manfaatnya, akan kita bahas berikut ini.

Bukan Pekerjaan Remeh
Pekerjaan memasak, misalnya, akan menajamkan perasaan seseorang. Kepandaian merajang bawang merah dengan sama tipis, sama sekali bukan hal yang mudah. Memperkirakan minyak agar tidak terlalu panas sehingga kerupuk bisa mekar dengan baik sempurna, kuningnya pas, dan tidak terlalu coklat pun butuh kepekaan perasaan. Belum lagi persoalan penataan hidangan di meja makan, bagaimana bisa nampak lebih menarik untuk disantap, semuanya butuh kelembutan perasaan dan ketrampilan motorik halus jari-jari tangan.
Mencuci, sekilas nampak seperti pekerjaan kasar semata. Ternyata di sana tetap dibutuhkan juga latihan kesabaran. Kaos kaki dekil, hanya bisa dibersihkan dengan menguceknya kuat-kuat berkali-kali. Bagian dalam kerah baju dan saku, perlu gosokan pelan namun teliti karena debunya tersembunyi di bagian yang sulit dikucek. Belum lagi saat menjemurnya. Jika asal-asalan merentangkan jemuran, ketika kering baju menjadi kusut. Tetapi jika dijemur dengan rapi, hati-hati, diluruskan serat-serat kainnya, maka baju akan lebih terawat rapi, tak mudah kusut maupun molor.
Begitu juga dengan meyeterika, membutuhkan latihan kesabaran yang tak ringan. Untuk bisa menyeterika kerah baju, bahu yang letaknya menyudut, lipatan-lipatan rok yang harus ditata satu demi satu, semuanya tak bisa dikerjakan dengan kasar dan sembarangan dan membutuhkan ketrampilan motorik halus jari-jari tangan pula.
Bagaimana dengan membersihkan kamar, menata buku, atau memasang vas bunga di meja, apakah semuanya pekerjaan remeh? Sama sekali tidak, karena semua ini akan mempertajam kepekaan para gadis terhadap kebersihan dan keindahan rumahnya kelak. Jika terbiasa dengan kamar seperti kapal pecah, lantas siapa yang nantinya berinisiatif memperindah rumahnya kelak? Padahal merawat bunga dalam pot bukan hal yang ringan. Membersihkan debu di sela-sela susunan buku, di sudut-sudut jendela pun butuh ketelatenan. Apakah harus suami yang mengerjakannya? Atau menggantungkan kepada pembantu? Ada pembantu pun tak akan berguna, jika majikannya tak peka terhadap kebersihan dan keindahan rumah.

Persiapkan Diri Kita
Walaupun kita merasa sebagai orang modern, jangan sekali-sekali merasa tak perlu belajar ketrampilan-ketrampilan rumah tangga. Apapun kesibukan kita, latihlah diri kita itu untuk bisa (walau tak harus pandai) memasak, menjahit, mencuci maupun menyeterika.
Jika kita trampil melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, kepekaan perasaan bisa tetap terjaga, juga kepekaan terhadap kebersihan lingkungan dan tumbuhlah pula cita rasa keindahannya. Kelembutan tangan dan kelincahan motorik halus jari-jari tangan mereka pun tetap terjaga. Dan pada akhirnya, semua itu akan membantu menghaluskan kejiwaan mereka, menumbuhkan kesabaran dan ketelatenannya.
Kepribadian yang halus dan lembut seperti ini akan menyeimbangkan kemandirian, kepandaian dan kemampuan rasio yang mereka dapatkan dari sekolah-sekolah formal yang ada.
Di jaman kehidupan Rasulullah, gadis-gadis telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup pernikahan. Apakah terlalu muda? Tidak, karena kepribadian mereka telah cukup matang. Nah dijaman Rasul aja para gadis seusia kita aja sudah belajar tentang keterampilan keluarga kenapa kita ngga coba belajar aja… selain untuk persiapan diri kita, kalo ada waktu luang kita juga bisa membantu meringankan pekerjaan orang tua kita, tul ga???! ok girl ,mengapa harus menunggu besok detik ini juga kita mencoba seremeh apapun pekerjaannya, pasti ada manfaatnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

percaya ga percaya

Tips dari Kanjeng Pengeran Harya Tjakraningkrat dari buku bertajuk "Bethaljemur Addamakna". Menurutnya setiap gerakan wanita ketika berjalan, melambangkan keperibadiannya.

Percaya ga???

Bila berjalan, dari belakang kelihatan seperti tidak memijak tanah. Golongan wanita yang jalannya berginjat, konon wanita ini adalah wanita yang tidak jujur, bila berbohong, mulutnya laser dan menyinggung perasaan orang lain. Wanita yang berjalan seperti ini juga terkenal dengan sikap egonya. Lebih parah, wanita ini biasanya pemboros atau suka membazir uang tanpa berpikir sebelum berbelanja. Padahal, uangnya itu masih banyak kegunaannya. Tapi jangan berkecil hati, kerana wanita seperti ini biasanya menjadi pujaan lelaki.
Bila berjalan, sering menoleh ke kanan and kiri. Wanita seperti ini biasanya pandai menyimpan rahsia. Walaupun ramai yang menganggap wanita seperti ini tidak jujur, suka menipu teman sendiri, dan merugikan temannya, namun, byk lelaki yang berusaha untuk menaklukan hatinya. Konon wanita seperti ini senang diatur.
Bila berjalan suka menunduk Cara berjalan melambangkan wanita seperti ini memiliki sifat yang tertutup. Ia hanya akan berbicara dengan orang-orang yang dekat dengannya dan dpt dipercaya untuk menyimpan rahasianya. Wanita seperti ini biasanya sukar untuk ditakluk hatinya. Disamping sikapnya yang dingin, wanita seperti ini tidak peduli dengan kehidupan cinta. Namun, jika ada lelaki yang berhasil menawan hatinya, dijamin akan mendapat kebahagiaan. Sebab, wanita jenis ini sangat setia, dan dia tidak akan mengkhianati lelaki yang dicintainya.
Bila berjalan menatap lurus ke depan. Wanita seperti ini biasanya memiliki pendirian yang teguh. Jangan sekali-sekali menentang apa yang pernah dikatakannya, jika anda tidak mau mendengar dia bicara panjang lebar. Meski pendiriannya teguh, tapi selalu berselisih pendapat. Jangan heran jika wanita seperti ini hanya mau bicara dengan orang yang berpengetahuan luas.
Bila berjalan badan bergerak ke kanan dan kiri. Wanita yang berjalan dengan gaya yang
sedemikian tidak perduli dengan masalah yang berlaku. Apa pun masalah yang ada dihadapannya, dianggap kecil. Padahal masalah itu sebenarnya memerlukan kebijaksanaan dalam menyelesaikannya. Kerana sifatnya yang suka ambil gampangnya ini, banyak persoalan yang akhirnya tidak dapat diselesaikan dan akibatnya merugikan diri sendiri.
Bila berjalan badan tampak tegak Wanita ini tegas menentukan sikapnya sendiri. Dia tidak mau urusan pribadinya dicampuri orang lain. Gaya bicaranya serius, menunjukkan dia memiliki pendirian teguh. Yang menarik dari wanita ini, ia bertanggungjawap terhadap apa yang pernah dilakukannya. Dia menyenangi lelaki yang mandiri tanpa meninggalkan sifat-sifat romantisnya.
Bila berjalan seperti Jerapah. Maksudnya, ketika melangkahkan kaki, kelihatan bergerak ke depan dan ke belakang. Wanita jenis ini sangat lemah perasaannya. Dia seorang yang mudah terasa dan mudah ersinggung. Jadi, saat anda bicara dengannya cobalah menjaga perasaannya agar tidak tersinggung, wanita ini mudah mengeluarkan air mata.
Bila berjalan sambil cengar-cengir, senyam-senyum tanpa alasan jelas ini wanita gila, agak
kurang waras jgn didekati Bila berjalan sambil nyanyi trus bawa kecrekan Berarti dia WARIA, bukan wanita asli..banyak pria yang takut padanya Bila berjalan sambil sesekali memamerkan barisan gigi2nya yang putih HATI HATI dia belom di suntik rabies !
Bila berjalan, dari belakang kelihatan seperti tidak memijak tanah Mungkin dia syetan....lariiiiii......hahahhaha......
kalo ada wanita bisa jalan di air, wuah... itu pasti hang zi yi! :p
Kalo ada wanita berambut panjang menutup muka dan keluar merangkak dari TV anda, maka itu Sadako. Avoid at all cost!
hehehehe afwan... ;p

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HARGAILAH AIRMATA SEORANG WANITA.....

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya"Mengapa engkau menangis?" "Karena aku seorangwanita", kata sang ibu kepadanya. "Aku tidak mengerti", kata anak itu. Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akanpernah mengerti" Kemudian anak laki-laki itu bertanya
kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpaalasan?"
"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yangdapat dikatakan oleh ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadiseorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa
wanita menangis. Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan iabertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudahmenangis?"

Tuhan berkata:
"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskanuntuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuatbahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak- anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "
"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."
"Kau tahu: Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada."
“Bundamu, makhluk yang sangat kuat Jika kau lihat bunda menangis,Karena Aku beri dia air mata, yang bisa dia gunakan sewaktu-waktu Untuk membasuh luka bathinnya dan memberikan kekuatan baru.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jodoh dan Kedewasaan Kita

Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda
menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan
rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang
keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.


Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus
menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a'lam bisshawaab.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Usia Dua Puluh Tahun

AlDakwah.com--Pertama kali mengenalnya saya tak terlalu terkesan. Biasa saja. Seorang wanita lajang berusia sekitar 27 tahun. Berprofesi sebagia guru TK Islam. Warga paling senior di kost-an yang akan saya masuki. Sedikit kasihan menyelip di dada saya, melihatnya masih sendiri, padahal budaya kampus di lingkungan kami saat itu, usia 27 termasuk dalam kategori terlambat. Lebih dari tujuh tahun yang lalu.

Setelah beberapa lama mengenalnya saya mulai mengaguminya. Dia dewasa. Cerdas, berwawasan luas dan berpikiran bijak, serta maju dan moderat, tidak saklek. Lebih lagi, dia sering dimintai pendapat para orang tua murid tentang anak-anak mereka, dan dicintai oleh anak-anak itu sendiri. Saya sering ikut membantunya mengasuh anak muridnya yang dititipakan di rumah sepulang sekolah karena kedua orang tuanya bekerja.

Saya pernah bertanya, mengapakah dia ‘mau’ hanya sekedar menjadi seorang guru TK, padahal dia punya potensi untuk berkembang lebih baik? Dan apakah dia akan selamanya menjadi guru TK, seperti yang sudah dijalanainya sekitar lima tahun? Tentu saja dia tak ingin ‘begitu-begitu’ saja. Sebagaimana manusia pada umumnya, dia juga punya mimpi. Namun jika Alloh belum menghendaki, adakah yang bisa dilakukan seorang muslimah kecuali menjalani apa yang dipaketkan oleh Alloh dengan sebaik-baiknya? Itu jawabnya waktu itu. Dan dia pun bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Tahun 1988, dia lolos Sipenmaru ke UGM Fakultas Ekonomi Akuntansi. Cukup bergengsi. Ketika dia menginjak tahun kedua kuliahnya, mulai ada riak dalam kehidupan keluarganya yang semula sangat berada dan bahagia. Ayahnya meninggal. Sedang keempat kakaknya masih kuliah. Dua di ITB, satu di UI, satu di Unair dan adik bungsunya, laki-laki, diterima di ITB. Maka dia pun memutuskan untuk mundur, demi kakak-kakaknya yang hampir selesai, dan demi adik laki-lakinya. Keluar dari UGM, dia mencoba test masuk STAN dan diterima di Prodip Anggaran. Sebuah pilihan yang realistis, karena kuliah di STAN gratis, bahkan mendapat uang saku.

Namun persentuhannya dengan fikrah islam yang berkembang pesat saat itu membuatnya kembali mengambil keputusan berani: Keluar dari kampus pada tahun kedua kuliahnya. Banyak memang akhwat yang mengambil keputusan keluar dari kampus agar terlepas dari kewajiban ikatan dinas. Sebagian besar dari akhwat yang keluar itu kemudian menikah. Dia? Alloh belum menakdirkan, hingga kami bertemu, lima tahun kemudian. Tentu saja, selama lima tahun itu, banyak yang berubah dalam kehidupan keluarganya. Kakak-kakaknya satu persatu berhasil. Dan mereka pun menawarkan bantuan. Tapi dia lebih memilih hidup dari keringatnya sendiri. Betapa pun berat dan jumud perjalanan hidupya.

Setahun kami bersama, dia mulai mencoba usaha baru dengan bergabung di Pustaka Time Life direct selling. Di sini dia menunjukkan kemampuan marketingnya. Dalam waktu satu tahun, dia mampu menembus target hingga, selain poin yang dia peroleh, dia mendapat bonus satu set ensiklopedi senilai 3,5 juta. Sebuah nilai yang cukup besar untuk tahun 1997. Berbarengan dengan itu, Jurusan Psikologi UI membuka kelas ekstensi malam hari. Berbekal dana yang dikumpulkannya dari penjualan buku Pustaka Time Life, dia pun mencoba mendaftar dan lolos. Maka hari-harinya pun mulai berbeda. Dia menjadi mahasiswi lagi, mulai dari awal, semester satu. Dinamis. Tahun 1998, karena sesuatu hal, dia keluar dari TK tempat dia mengajar, dan pindah ke sebuah lembaga pendidikan sejenis yang sedang berbenah, sebagai sekretaris umum.

Tahun 1998 pula kami berpisah karena saya yang sudah bekerja pindah kantor dan dia tinggal bersama kakaknya. Namun kami tetap keep contact melalui telepon atau janjian untuk ketemu, meski tidak terlalu sering. Dan setiap ketemu kami saling bercerita tentang aktifitas baru kami. Kadang saya juga berkonsultasi atas masalah-masalah saya. Dari pertemuan-pertemuan itulah saya makin mengagumi keuletannya, ketegarannya, dan napas panjangnya untuk tetap menjaga mimpi-mimpinya. Saya tahu, dia memang makin berkembang, saya juga tahu bahwa dia tetap belum menikah. Tapi saya melihat dia menikmati kehidupannya dengan segala aktifitas yang tengah dia jalani. Hampir setahun yang lalu dia berkata pada saya,”Saya tak takut akan pertambahan usia. Alloh akan memberikan saya sesuatu tepat pada masanya. Mungkin kehidupan semacam inilah yang pas untuk saya saat ini”.

Hingga akhirnya, pekan-pekan kemarin saya mendengar kabar, dia akan menikah bulan depan, di usianya yang menjelang 34 tahun. Dan saya yakin, sudah masanya kalau dia menikah sekarang. Pun saat dia sudah menyelesaikan pendidikannya, setelah melanglang tiga kampus ternama di Indonesia. Sebentar lagi dia akan memperoleh gelar Sarjana Psikologinya. Apa yang terjadi dalam kehidupannya saat ini, bagai puzzle yang jatuh pas pada tempatnya. Semua sesuai, semua cocok. Dan saya tak bisa mengingkari sedikit pun bahwa memang sudah selayaknya dia menjabat apa yang dia jabat sekarang. Saat ini, dia adalah seorang profesional muda di jajaran manajemen lembaga pendidikan yang tengah naik daun. Dia juga menjadi konsultan ahli pada sebuah lembaga pelatihan yang sedang dibentuk sebuah jama’ah dakwah yang sedang meroket. Alloh tak pernah mengingkari janjinya pada orang yang bekerja keras dan bersabar. Segala puji bagi-Nya.

****

Saya termenung. Merenungi perjalanan hidupnya, juga perjalanan hidup saya. Sungguh, begitu panjang jalan yang mesti dia tempuh untuk mendapatkan apa yang akhirnya dia dapatkan saat ini. Begitu berliku dan penuh onak duri. Toh, dia tetap menikmati perjalanan itu. Begitu sering kegagalan dia temui, tapi dia tak jemu untuk mencoba lagi.

Beberapa hari lagi, 27 tahun jatah usia akan saya lalui. Dan tiba-tiba saya merasa sangat malu, mengingat tingkah saya beberapa waktu terakhir. Meratapi kegagalan yang berulangkali menimpa diri. Menyesali kenaifan saya selama ini. Menangisi mimpi-mimpi –yang sesungguhnya- sederhana, namun serasa bagai fatamorgana. Dan akhirnya diam, tak mengerti apa lagi yang bisa saya lakukan sekarang. Menghabiskan waktu dengan tidur dan tidak melakukan apa-apa. Saya merasa sangat ketakutan melewati batas usia 27 tahun. Saya melihat, pintu-pintu peluang telah tertutup dan semua berubah menjadi tembok. Mentok. Saya telah –hampir—memutuskan untuk menjalani saja sisa hari-hari, apa adanya. Mungkin inilah takdir kehidupan saya. Saya capek, capek sekali menjalani hidup ini.

Tapi begitukah? Bukankah teman saya baru memulai ketika usianya telah lewat 27 tahun, dan dia berhasil? Bukankah meskipun saya gagal dan gagal lagi, saya telah lebih banyak mencoba dari dia di saat usianya 27? Dan itu artinya saya punya modal pengalaman lebih banyak dibanding dia saat seusianya dulu? Dan bukankah juga saya lebih banyak memiliki jaringan dibanding dia pada saat yang sama? Dengan begitu saya bisa mencoba lagi dengan rencana lebih matang dan desain yang lebih realistis dengan peluang dan kemampuan yang saya miliki?

Maka mengapakah saya harus berhenti, padahal saya sudah jauh meninggalkan tepian, hingga tak memungkinkan bagi saya untuk mundur dan kembali? Maka mengapakah saya berhenti, sedang itu berarti mati? Bukankah terus melangkah dan mencoba adalah jauh lebih baik, meskipun saya harus gagal lagi atau mati, tapi setidaknya saya akan telah mencoba? Dan saya tahu kini, bahwa pilihan saya hanya satu: Saya harus bangkit dan melangkah lagi. Persiapkan perbekalan, agar terus bernapas panjang. Tak ada kata berhenti, kecuali mati.
(Kado kecil untuk seorang ukhti yang akan menempuh hidup baru).end

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS